Sannakji
sains di balik tentakel gurita yang masih melawan di tenggorokan
Pernahkah kita duduk di depan piring makan, memegang sumpit, dan menyadari bahwa makan malam kita sedang berusaha kabur?
Mari kita bayangkan sebentar sebuah restoran tepi laut yang sibuk di Korea Selatan. Di atas meja, tersaji sepiring hidangan yang ditaburi minyak wijen dan daun bawang. Namun, hidangan itu tidak diam. Potongan-potongan tentakel kecil itu menggeliat, melilit satu sama lain, dan merayap ke tepi piring. Ini adalah sannakji, hidangan gurita mentah yang sangat terkenal.
Ketika kita memasukkannya ke dalam mulut, sensasinya sungguh di luar nalar. Potongan gurita itu akan melawan. Mangkuk-mangkuk hisap mungilnya akan menempel di langit-langit mulut, lidah, dan dinding pipi bagian dalam. Kita harus mengunyahnya kuat-kuat sebelum menelannya. Rasanya seolah kita sedang melakukan pertarungan hidup dan mati di dalam rongga mulut kita sendiri. Sebuah pengalaman kuliner yang ekstrem, sekaligus sedikit menakutkan.
Secara psikologis, kita manusia memang spesies yang unik. Mengapa kita rela membayar mahal untuk memakan sesuatu yang tampak seperti mimpi buruk fiksi ilmiah?
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut benign masochism atau masokisme jinak. Kita menikmati rasa sakit atau ketakutan yang terkendali. Sama seperti sensasi naik roller coaster atau memakan cabai terpedas di dunia. Kita tahu kita aman, tetapi otak kita tetap meresponsnya sebagai sebuah ancaman yang mendebarkan. Adrenalin pun mengalir.
Secara sejarah, masyarakat pesisir telah lama memakan tangkapan laut yang paling segar. Mengonsumsi hasil laut sesaat setelah ditangkap adalah simbol kemakmuran dan penghargaan terhadap alam. Namun, ada satu keganjilan yang mengusik pikiran. Koki di dapur sudah pasti telah membelah gurita tersebut. Kepalanya sudah dipisahkan dari tubuhnya. Jantungnya sudah berhenti berdetak. Secara medis, makhluk itu sudah mati.
Lalu, bagaimana mungkin potongan daging di atas piring itu masih bisa bergerak lincah dan melawan saat dikunyah? Apakah ini sebentuk kehendak untuk hidup yang menolak padam?
Pertanyaan ini bukan sekadar rasa penasaran iseng. Taruhannya ternyata adalah nyawa.
Faktanya, memakan sannakji memiliki risiko fatal. Diperkirakan ada sekitar enam orang yang meninggal setiap tahunnya karena tersedak hidangan ini. Saat potongan tentakel itu meluncur turun ke tenggorokan, mangkuk hisapnya yang masih aktif bisa menempel kuat di dinding kerongkongan. Menutup jalan napas secara total.
Coba teman-teman pikirkan hal ini. Kalau lengan manusia terpotong, lengan itu akan diam tak berdaya. Ia kehilangan pasokan darah dan perintah dari otak. Tamat. Namun, mengapa lengan gurita bertindak seolah-olah ia memiliki "nyawa" sendiri? Bagaimana sebuah potongan daging tanpa kepala tahu kapan harus menempel dan melilit apa pun yang menyentuhnya? Apakah ada keajaiban kelam di balik anatomi hewan bertentakel ini? Misteri ini memaksa kita untuk melihat lebih dalam ke dalam sistem biologi yang benar-benar terasa seperti makhluk asing.
Mari kita bongkar sains keras (hard science) di baliknya. Jawaban dari misteri ini ada pada sistem saraf gurita yang luar biasa menakjubkan.
Jika sistem saraf manusia adalah sebuah pemerintahan terpusat yang dipimpin oleh otak di kepala, gurita lebih mirip sistem otonomi daerah. Seekor gurita memiliki sekitar 500 juta neuron. Namun, yang mengejutkan, dua pertiga dari neuron tersebut tidak berada di kepalanya. Neuron-neuron itu tersebar merata di kedelapan lengannya.
Setiap lengan gurita pada dasarnya memiliki "otak mini" sendiri. Lengan ini bisa mencium, mengecap rasa, dan membuat keputusan pergerakan dasar tanpa perlu berkonsultasi dengan otak utama. Jadi, ketika koki memotong lengan gurita, memori otot dan refleks saraf di lengan tersebut tetap hidup dan utuh.
Lalu, apa yang memicu mereka menari-nari hebat di atas piring? Kuncinya ada pada bumbunya. Ketika koki menaburkan minyak wijen, kecap asin, atau taburan garam, itu bukan sekadar penambah rasa. Kandungan ion natrium di dalam garam bertindak sebagai semacam "kabel jumper" untuk sirkuit listrik saraf gurita. Garam memicu reseptor saraf di tentakel yang terputus, menghasilkan serangkaian kontraksi otot secara spontan.
Tentakel itu tidak sedang bernapas, tidak merasa sakit, dan tidak berniat membalas dendam. Gerakan memutar dan menghisap itu murni adalah refleks biokimiawi. Sebuah mesin biologis yang terus menjalankan program otomatisnya, meskipun server utamanya sudah mati.
Memahami sains di balik sannakji mengubah cara kita melihat sepotong makanan. Gurita itu memang sudah mati, namun jaring-jaring kehidupannya menolak untuk langsung padam begitu saja.
Ini adalah momen yang bisa memantik rasa empati sekaligus kekaguman kita terhadap evolusi. Alam semesta merancang makhluk dengan kecerdasan yang tersebar di seluruh tubuhnya. Sebuah desain kehidupan yang sangat berbeda dari kita, namun bekerja dengan sempurna di dasar lautan sana.
Ketika kita mengetahui fakta ini, pengalaman melihat atau memakan sannakji bukan lagi sekadar ajang pamer keberanian kuliner. Ini adalah sebuah pengingat visual yang nyata tentang betapa rumit dan tangguhnya jaring kehidupan. Lain kali, jika teman-teman melihat sesuatu yang aneh dan mengerikan di alam liar atau bahkan di atas meja makan, jangan buru-buru memalingkan muka. Mari kita amati, berpikirlah kritis, dan cari tahu sains di baliknya. Karena seringkali, kebenaran ilmiah jauh lebih memukau daripada misterinya.